AIRASIA LOW PRICE

Kamis, 28 Agustus 2008

TANGGAPAN SAIFULLAH HAYATI NUR.........

Sifat arogansi yang berlebihan, ketidakpedulian mekanisme kerja, kegamangan warga terhadap informasi hak rumah mereka yang ditanamkan pada restrukturisasi BRR menyebabkan kepincangan organisasi ini.

Sedih melihat hal-hal ini semua terjadi. Tapi apa " hendak dikata nasi akan menjadi bubur", tinggal kita akan melihat apakah bubur tersebut akan bisa dicicipi atau tercicipi atau hanya akan menambah/menjadi menu baru yang tidak akan pernah disentuh selama-lamanya dan bahkan membasi begitu saja tanpa seorangpun menyentuhnya.

Apa artinya ratusan kilometer jalan raya beton aspal jika warga mengamuk meminta rumah sebagai jalan protokol untuk menuntut haknya. Apa artinya gedung sekolah jika warga tidak tenang untuk melihat rumahnya tidak layak huni. Apa artinya jembatan beton jika BRR hanya mampu menyembatani hal-2 yang belum tentu sangat dibutuhkan oleh warga?

Merenungi ini semua dapat dipastikan bahwa "Nasi akan benar-benar menjadi bubur", realitasnya DP3 dibubarkan padahal DP3 sebagai salah satu komponen BRR yang terpenting bagi terbentuknya kesejahteraan warga di aceh pasca tsunami malah berlahan-lahan justru akan menciptakan bola api panas yang akan bergelinding di tengah-tengah roda BRR itu sendiri.

BRR harus bersiap-siap dan harus mampu melihat kedepan prospek warga aceh setelah dibubarkannya DP3. bukan prospek kilometeran jalan raya, bukan gedung sekolah dan bahkan juga bukan jembatan beton yang kokoh.

Terima kasih pak lukman telah membuka aliran urat saraf saya untuk berpikir lebih matang lagi.
Wassalam

Tidak ada komentar: